Alifdankayla’s Weblog


Siapakah ? ….
September 23, 2008, 1:15 am
Filed under: Ilmu, |oase iman | Tags:

Siapakah orang yang sibuk? Orang yang sibuk adalah orang yang tidak mengambil berat akan waktu solatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s

Siapakah orang yang manis senyumanya? Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ditimpa musibah lalu dia kata “Inna lillahi wainna illaihi rajiuun.”
Lalu sambil berkata,”Ya Rabbi Aku redha dengan ketentuanMu ini”, sambil mengukir senyuman.

Siapakah orang yang kaya? Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.

Siapakah orang yang miskin? Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada sentiasa menumpuk-numpukkan harta.

Siapakah orang yang rugi? Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikan.

Siapakah orang yang p ali ng cantik? Orang yang p ali ng cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas? Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan sejauh mata memandang.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit? Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikkan lalu kuburnya menghimpitnya.

Siapakah orang yang mempunyai akal? Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni syurga kelak kerana telah mengunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.

Siapakah org yg PELIT ? Orang yang pelit ialah orang yg membiarkan atau membuang renungan ini begitu saja, malah dia tidak akan menyampaikan kepada orang lain.

Ya Allah jadikan hamba orang yang Kau cintai..dan pandai bersyukur…amien



ber-itikaf
September 16, 2008, 10:26 am
Filed under: pengalamanku, |oase iman | Tags: ,

Sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan adalah waktu untuk meningkatkan amal ibadah. Karena di sepuluh malam terakhir, terdapat Lailatul Qadr, suatu malam di mana jika seseorang beribadah di malam itu, nilainya lebih baik dari ibadah seribu bulan. Salah satu ibadah yang dianjurkan adalah i’tikaf.
“Bahwa Rasulullah beri’tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan hingga beliau wafat” (HR Bukhari)

10 hari Ramadhan 1429H putaran kedua hampir berakhir..Mulai terngiang kata i’tikaf. Mencari makna kata Itikafpun di lakukan. Didapatlah Itikaf yang tentunya dari bahasa arab yang berasal dari ‘akafa alaihi’, artinya senantiasa atau berkemauan kuat untuk menetapi sesuatu atau setia kepada sesuatu. Secara harfiah kata i’tikaf berarti tinggal di suatu tempat, sedangkan syar’iyah kata i’tikaf berarti tinggal di masjid untuk beberapa hari, teristimewa sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Yang pengen beritikaf ..ayo sama-sama kita bikin agenda dan ibadah yang mungkin bisa kita jalankan selama beritikaf (kasih comment ya sekalian koreksi dan masukannya)

Magrib : ifthar (berbuka puasa bersama) dan shalat magrib berjamaah
Isya : Shalat Isya dan tarawih berjamaah, ceramah tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan kajian akhlak. Tidur hingga jam 02.00 lalu kita lanjutkan dengan Qiyamullail (sholat malam), muhasabah, dzikir, dan doa. Jelang shubuh kita jalankan Sahur.
Subuh: shalat Subuh, dzikir dengan bacaan-bacaan yang ma’tsur (al-ma’tsurat), tadarus Al-Qur’an.
Pagi: istirahat, mandi, cuci pakaian (inget waktu kost-kostan ya), dan melaksanakan hajat yang lain (sebisa mungkin di dalam lingkungan mesjid)
Dhuha: shalat Dhuha, tadzkiyatun nafs (beragam ibadah dan amal-amal shalih yang telah disyariatkan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah) dan kuliah dhuha (mudah2an mesjid menyelenggarakannya)
Zhuhur: shalat Zhuhur, kuliah zhuhur, dan tahsin tilawah.
Ashar: shalat Ashar dan kuliah ashar, dzikir dengan bacaan-bacaa yang ma’tsur (al-ma’tsurat).

MAA YUSANNU LIL MU’TAKIF (Apa-apa yang disunnahkan pada orang yang i’tikaf):

Puasa pada selain bulan Ramadhan dibolehkan i’tikaf tanpa berpuasa (berdasarkan hadits Umar no. 2043 di atas)
Shalat malam baik berjama’ah maupun sendiri-sendiri (berdasarkan hadits Abu Hurairah, Fathul Bari, Kitab Shalat Tarawih, bab Keutamaan org yang melakukan Qiyam Ramadhan, hadits no. 2009)
Menanti lailatul qadar (berdasarkan hadits Abu Sa’id al-Khudri, Fathul Bari, Kitab I’tikaf, bab I’tikaf pada 10 yang akhir & i’tikaf di mesjid-masjid, hadits no. 2027)
Membaca al-Qur’an, berdasarkan firman ALLAH SWT pada surat Al-Baqarah (2) ayat 185 : “…bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
Berdzikir, membaca tasbih, tahmid, takbir, tahlil, shalawat, istighfar (berdasarkan firman ALLAH SWT QS Al-Ahzab, 33:41 dan hadits Aisyah ra, Fathul Bari, Kitab )
Berdoa, berdasarkan Firman ALLAH SWT surat Al-Baqarah (2) ayat 186: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

MAA YUBAAHU LAHU (Apa-apa yang dibolehkan bagi yang i’tikaf):

Perbuatan-perbuatan yang mubah seperti mandi, berminyak wangi, mencukur rambut, berhias, disisir rambut oleh istri, mencuci rambut/keramas (Fathul Bari, Kitab I’tikaf, bab wanita haid menyisir rambut org yang i’tikaf)
Boleh bercakap-cakap dengan orang lain, berduaan dengan istri, ataupun karena ada keperluan keluar ke pintu mesjid atau kerumahnya, kemudian kembali lagi (berdasarkan hadits Shafiyyah ra, Fathul Bari, Kitab I’tikaf, bab Apakah orang yang i’tikaf boleh keluar untuk keperluannya ke pintu masjid, Hadits no. 2035 & no. 2038)
Wanita yang sedang istihadhah (mengeluarkan darah bukan karena haid) boleh ikut i’tikaf (berdasarkan hadits Aisyah ra, Fathul Bari’, Kitab i’tikaf, bab i’tikaf bagi wanita yang Mustahadhah, hadits no. 2037)
Orang yang i’tikaf boleh membatalkan i’tikafnya karena sesuatu hal yang penting (Fathul Bari’, Kitab i’tikaf, Bab Orang yang i’tikaf lalu tampak baginya keinginan untk keluar dr i’tikaf, hadits no. 2045)
Orang yang i’tikaf boleh membawa barang-barang yang diperlukan, seperti alas tidur ke dalam mesjid (Fathul Bari’, Kitab i’tikaf, Bab Orang yang keluar dari i’tikafnya di waktu shubuh, hadits no. 2040)

ALLAHu a’lam bish Shawab…



marhaban ya Ramadhan
August 29, 2008, 6:05 am
Filed under: |oase iman | Tags: , ,

Bumi…Bulan…
Matahari…Hutan..dan ..Samudera…
Serta adanya jagad raya telah menanti

Marhaban Yaa Ramadhan
Marhaban Syahrus Shiam
Meski diri terlalu lekat berbalut khilaf
Semoga Allah senantiasa membuka pintu maaf
Dan selalu menghapus segala khilafku
Dan kau .. wahai keluargaku, saudaraku dan sahahabat-sahabatku
Maafkan bila aku telah dan pernah menyakiti kalian

Dan padaMu Yaa Rabb…
Engkau begitu Pengasih dan Penyayang kepadaku
Hingga kau kirimkan padaku, dia dan kami semua bulan Ramadhan yang mulia
agar kami dapat membersihkan diri dari dosa dan noda yang pernah kami lakukan
Karena pula Kau tahu umatMu ini tak sanggup menghadapi api neraka

Mari kita jaga kesucian cinta kita
Hingga kita bisa terus istiqomah terus di jalanNya
Seperti dedaunan yang senantiasa rimbun
Bagai matahari yang selalu menyinari bumi
Laksana bumi yang senantiasa tak pernah lelah menopang langkah kita

Padamu Yaa Rabb..
Ampuni segala dosa-dosa kami
Dosa-dosa yang telah kami lakukan
Dosa atas penglihatan, pendengaran dan penciuman kami
Yaa Allah Engkau Maha Pengampun dan Pengasih

Marhaban Yaa Ramadhan
Kupasrahkan diri ini padamu Yaa Ramadhan
Berharap diri suci kembali
Seperti saat kami dilahirkan
Seperti dedaunan yang selalu rimbun menghijau
Dan akar-akarnya yang selalu menyangga dengan perkasa

Selamat Datang Bulan Suci..
Aku telah menantimu
Marhaban Syahrus Shiam
Marhaban Yaa Ramadhan



Shalat Sebelum Dishalati
July 8, 2008, 8:31 am
Filed under: |oase iman | Tags: , , , ,

Hari minggu kemarin, 2 orang saudaraku meninggal dunia. yang pertama seorang ibu muda meninggal di pagi hari sekitar jam 7:30 karena infeksi pada tulang belakang yang membuat dirinya lumpuh setengah badan, sedangkan yang satu adalah seorang nenek yang sakit karena gula. Nenek ini meninggal sekitar pukul 14:00. Hmm malamnya aku bermimpi gigiku copot 2 dari rahang atas…hmm bukan bermaksud percaya dengan tahayul..cuma inget aja cerita-cerita orang tua he he he.

Hanya sempet ikut sholatin mayat nenek Jaja, sedangkan yang satunya ngga sempet.

hari ini kebetulan baca tulisan yang ada kaitannya dengan cerita di atas..mungkin berguna untuk aku baca nanti
:
Shalat Sebelum Dishalati

Dini hari itu, ruang kerja kami sudah lengang. Hanya tertinggal saya dan beberapa rekan saja yang masih berada di kantor. Seusai deadline, biasanya hal yang sangat saya sukai adalah memandang keluar dari balik kaca kantor. Ditemani secangkir kopi, saya berkontemplasi dan mencatat dalam memori apa-apa saja yang akan saya evaluasi. Saya tertegun sejenak saat membaca buku tentang shalat. Betapa selama ini banyak orang mengerjakan shalat, tapi belum sepenuhnya paham esensi salah satu rukun Islam tersebut.

Jika ditelaah, shalat adalah ibadah yang menyehatkan. Shalat membawa banyak manfaat yang luar biasa. Salah satu manfaatnya, shalat bisa memperlancar peredaran darah. Maka, sudah semestinya kita bersyukur karena Allah mewajibkan setiap muslim untuk shalat. Tidak lain, hal tersebut bertujuan demi kebaikan hamba itu sendiri.

Zaman semakin modern, semakin banyak pula orang mengesampingkan ibadah shalat. Ada saja alasan untuk tidak shalat. Pekerjaan yang menyita perhatian, pikiran, dan tenaga dijadikan alasan melalaikan shalat. Masya Allah.

Banyak orang mengaku muslim, tapi rukun Islam tentang shalat sering diabaikan dan tidak dikerjakan. Saya pernah mendengar ada orang yang mengatakan bahwa tidak shalat tidak apa-apa yang penting beramal baik. Astaghfirulah, dari mana pemahaman seperti itu?

Allah berfirman: ”Apakah yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) saqar ini? (Mereka menjawab) kami dahulu termasuk orang-orang yang tidak menunaikan shalat.” (Al-Mudatsir 42–43).

Sudah pasti bahwa siksa Allah itu pedih. Meninggalkan shalat dengan sengaja pun termasuk dosa besar. Tidak ada pengecualian untuk meninggalkan shalat kecuali tiga hal. Yakni, anak kecil hingga baligh, tertidur hingga bangun, orang gila hingga sembuh atau orang yang sudah meninggal. Nah, jelaslah bahwa shalat itu tidak boleh ditinggalkan dengan alasan apa pun. Maka, takutlah jika kita meninggalkan shalat.

Rasulullah SAW bersabda: ”Seringan-ringannya siksa pada hari kiamat ialah orang yang padanya diletakkan dua batu bara api neraka di bawah tumitnya yang mampu mendidihkan otaknya. Pada saat itu, dia merasa bahwa tidak seorang pun yang lebih kuat siksaan yang diterimanya dibandingkan orang lain. Padahal, sesungguhnya itulah siksaan yang seringan-ringannya (HR Bukhari dan Muslim).

***

Dalam suatu perjalanan ke masjid untuk shalat Jumat, saya tertegun karena di jalan masih begitu ramai. Aktivitas orang-orang pun masih berlanjut. Saat azan diperdengarkan, masih banyak orang yang nongkrong di warteg. Masih banyak orang yang sibuk belanja di mal atau pusat perbelanjaan. Tidak sedikit pula orang yang masih sibuk dengan pekerjaan mereka. Suara panggilan shalat ternyata masih banyak direspons secara cuek. Padahal, mereka sadar bahwa shalat adalah kewajiban. Shalat juga merupakan tiang agama. Siapa yang menunaikan shalat, dia telah menegakkan tiang agama. Dan siapa yang meninggalkan shalat, dia telah merobohkan tiang agama.

Dalam suatu kesempatan lain, saya menghadiri pemakaman tetangga kampung kami. Tampak, beberapa anggota keluarga si jenazah larut dalam kesedihan. Setelah dimandikan dan dishalati, kami mengantarkan almarhum sampai di makam. Kami ikut memanjatkan doa dan setelah itu kembali lagi ke rumah.

Saya tertegun dan berpikir, ”Inilah (kuburan) rumahku kelak.” Orang kalau sudah mati tidak akan bisa apa-apa. Dia tidak membawa apa-apa, kecuali kain kafan. Putus sudah semua amalan di dunia jika maut telah menjemput. Yang tertinggal hanya tiga perkara. Yakni, amal saleh (jariyah), ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh.

Malam-malam di kantor, saya kembali merenung, betapa banyak dosa yang telah saya perbuat. Betapa dhaif dan lemahnya manusia sebagai hamba ALlah. Sebab, tiadalah manusia bisa berbuat apa-apa selain karena pertolongan Allah Yang Maha Perkasa. Dalam qiyamul lail, tak sengaja mata saya basah. ”Bisa apa aku kelak sesudah mati? Sebab, semua ini hanyalah titipan-Mu ya Allah..”

Fajar hampir menjelang di balik kaca kantor. Dingin dan sepi. Lidah ini seakan beku tak tahu harus berucap syukur apa lagi. Dua rakaat Subuh begitu terasa damai dan nikmat. Lalu, mengapa masih banyak kaum di antara kita meninggalkan shalat dengan sengaja? Betapa sebenarnya Allah itu benar-benar maha pengasih dan penyayang. Namun, kebanyakan hamba-hamba-Nya lupa akan segala curahan nikmat dan anugerah-Nya. Padahal, jika mati, kita tidak akan membawa jabatan, keluarga, apalagi harta.

Jangan sampai kita menyesal di kampung akhirat nanti hanya karena terus memikirkan duniawai. Sebab, dunia hanya persinggahan sejenak dan penuh senda gurau. Shalat adalah tiang agama. Maka, hendaklah shalat itu dijadikan sebagai sebuah kebutuhan sebelum kelak kita akan dishalati.

Allah SWT berfirman: ”Sesungguhnya, Kami telah memperingatkan kepadamu akan (terjadinya) azab yang dekat pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya. Dan orang kafir berkata: ”Aduhai! Sekiranya aku menjadi tanah!” (An-Naba’: 40).

di tulis oleh prasetyo_pirates@yahoo.co.id



Asmaul Husna
June 8, 2008, 4:54 am
Filed under: Ilmu, |oase iman | Tags: , ,

Asma’ul Husna artinya Nama-nama yang baik. Dalam Islam disebutkan Allah memiliki 99 nama yang baik yang tertulis di dalam Al Qur’an.

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi s.a.w bersabda:
“Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama, yaitu 100 kurang satu. Siapa yang menghafalnya akan masuk syurga.” Sahih Bukhari.

“Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai asma’ul husna (nama-nama yang baik).” – (Thaa-Haa:8)

Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaa’ul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu” – (Al Israa’: 110)

“Allah memiliki Asma’ ulHusna, maka memohonlah kepadaNya dengan menyebut nama-nama yang baik itu…” – (QS. Al A’raaf : 180)

Namun yang masih dipertanyakan ada yang mengawali dengan kalimah “ALLAH” dan ada yang mengawali dengan kalimah “AL RAHMAN”, kalau mengawali dengan “ALLAH” sebagai bagian dari ASMAUL HUSNA maka meniadakan “AL AHAD”, sedangkan kalau mengawali dengan”AL RAHMAN” maka mengikutkan “AL AHAD” sebagai bagian dari ASMAUL HUSNA. nah disini saya masih bingung mana yang tepat, “ALLAH” itu merupakan bagian dari ASMAUL HUSNA atau berstatus sebagai DZAT, terus kalau “AL AHAD” itu apakah memang berbeda atau sama dengan “AL WAHID” dalam pengertiannya.

1. Allah
2. Ar-Rahman – Maha Pemurah
3. Ar-Rahim – Maha Penyayang
4. Al-Malik – Maha Merajai/Pemerintah
5. Al-Quddus – Maha Suci
6. As-Salam – Maha Penyelamat
7. Al-Mu’min – Maha Pengaman
8. Al-Muhaymin – Maha Pelindung/Penjaga
9. Al-’Aziz – Maha Mulia/Perkasa
10. Al-Jabbar – Maha Pemaksa
11. Al-Mutakabbir – Maha Besar
12. Al-Khaliq – Maha Pencipta
13. Al-Bari’ – Maha Perancang
14. Al-Musawwir – Maha Menjadikan Rupa Bentuk
15. Al-Ghaffar – Maha Pengampun
16. Al-Qahhar – Maha Menundukkan
17. Al-Wahhab – Maha Pemberi
18. Ar-Razzaq – Maha Pemberi Rezeki
19. Al-Fattah – Maha Pembuka
20. Al-’Alim – Maha Mengetahui
21. Al-Qabid – Maha Penyempit Hidup
22. Al-Basit – Maha Pelapang Hidup
23. Al-Khafid – Maha Penghina
24. Ar-Rafi’ – Maha Tinggi
25. Al-Mu’iz – Maha Pemberi Kemuliaan/Kemenangan
26. Al-Muthil – Maha Merendahkan
27. As-Sami’ – Maha Mendengar
28. Al-Basir – Maha Melihat
29. Al-Hakam – Ma! ha Menghukum
30. Al-’Adl – Maha Adil
31. Al-Latif – Maha Halus
32. Al-Khabir – Maha Waspada
33. Al-Halim – Maha Penyantun
34. Al-’Azim – Maha Agong
35. Al-Ghafur – Maha Pengampun
36. Ash-Shakur – Maha Pengampun
37. Al-’Aliyy – Maha Tinggi Martabat-Nya
38. Al-Kabir – Maha Besar
39. Al-Hafiz – Maha Pelindung
40. Al-Muqit – Maha Pemberi Keperluan
41. Al-Hasib – Maha Mencukupi
42. Aj-Jalil – Maha Luhur
43. Al-Karim – Maha Mulia
44. Ar-Raqib – Maha Pengawas
45. Al-Mujib – Maha Mengabulkan
46. Al-Wasi’ – Maha Luas Pemberian-Nya
47. Al-Hakim – Maha Bijaksana
48. Al-Wadud – Maha Pencinta
49. Al-Majid – Maha Mulia
50. Al-Ba’ith – Maha Membangkitkan
51. Ash-Shahid – Maha Menyaksikan
52. Al-Haqq – Maha Benar
53. Al-Wakil – Maha Berserah
54. Al-Qawiyy – Maha Memiliki Kekuatan
55. Al-Matin – Maha Sempurna Kekuatan-Nya
56. Al-Waliyy – Maha Melinuingi
57. Al-Hamid – Maha Terpuji
58. Al-Muhsi – Maha Menghitung
59. Al-Mubdi’ – Maha Memulai/Pemula
60. Al-Mu’id – Maha Mengembalikan
61. Al-Muhyi – Maha Menghidupkan
62. Al-Mumit – Maha Mematikan
63. Al-Hayy – Maha Hidup
64. Al-Qayyum – Maha Berdiri Dengan Sendiri-Nya
65. Al-Wajid – Maha Menemukan
66. Al-Majid – Maha Mulia
67. Al-Wahid – Maha Esa
68. As-Samad – Maha Diminta
69. Al-Qadir – Maha Kuasa
70. Al-Muqtadir – Maha Menentukan
71. Al-Muqaddim – Maha Mendahulukan
72. Al-Mu’akhkhir – Maha Melambat-lambatkan
73. Al-’Awwal – Maha Pemulaan
74. Al-’Akhir – Maha Penghabisan
75. Az-Zahir – Maha Menyatakan
76. Al-Batin – Maha Tersembunyi
77. Al-Wali – Maha Menguasai Urusan
78. Al-Muta’ali – Maha Suci/Tinggi
79. Al-Barr – Maha Bagus (Sumber Segala Kelebihan)
80. At-Tawwab – Maha Penerima Taubat
81. Al-Muntaqim – Maha Penyiksa
82. Al-’Afuww – Maha Pemaaf
83. Ar-Ra’uf – Maha Mengasihi
84. Malik Al-Mulk – Maha Pemilik Kekuasaan
85. Zhul-Jalali wal-Ikram – Maha Pemilik Keagungan dan Kemuliaan
86. Al-Muqsit – Maha Mengadili
87. Aj-Jami’ – Maha Mengumpulkan
88. Al-Ghaniyy – Maha Kaya Raya
89. Al-Mughni – Maha Penberi Kekayaan
90. Al-Mani’ – Maha Membela/Menolak
91. Ad-Darr – Maha Pembuat Bahaya
92. An-Nafi’ – Maha Pemberi Manfaat
93. An-Nur – Maha Pemberi Cahaya
94. Al-Hadi – Maha Pemberi Petunjuk
95. Al-Badi’ – Maha Indah/Tiada Bandingan
96. Al-Baqi – Maha Kekal
97. Al-Warith – Maha Membahagi/Mewarisi
98. Ar-Rashid – Maha Pandai/Bijaksana
99. As-Sabur – Maha Penyabar



Menjelang Shubuh
April 5, 2008, 2:57 am
Filed under: |oase iman

Maka, nikmat Tuhan-mu yang mana yang kau dustakan?” (QS Ar Rahman)

Mungkin, di antara kita sudah pernah melihat gambar-gambar tentang kebesaran Allah. Entahlah, saya tidak tahu harus berucap apa, tasbih, takbir, tahmid, ataukah taubat. Atau, justru mengucap keempat-empatnya lantaran takjub dengan kebesaran-Nya? Perasaan ini bercampur aduk.
Jelang subuh, saya buka kembali lembaran-lembaran dari Al-Hikmah. Mencoba memahami sesuatu yang dijadikan sebagai peringatan dan pertanda. Dunia sudah semakin tua. Namun, kita terkadang alpa untuk ikut merasa memelihara dua hal itu. Terkadang, kita lebih banyak tertawa dan sedikit menangis. Menangis merenungi dosa-dosa di tengah malam dengan mahabbah dan takut kepada Yang Mahasegala.
Jika rasa asyik sudah melanda, lalu waktu mampu melenakan kita, kita mungkin akan kehilangan sesuatu yang berharga. Yakni, membekali diri dengan amal sebagai persiapan menuju kubur. Hidup di dunia sudah sulit dan penuh cobaan. Semua ini cobaan. Susah-senang, jahat-baik, bahagia-sedih, sehat-sakit, kaya-miskin, pintar-bodoh, dan lain-lain adalah cobaan. Allah menciptakan cobaan seperti itu tidak lain agar semesta ini seimbang.
Hidup di dunia saja sudah dirasa susah. Apalagi jika kita sudah berada di alam kubur. Bahkan, untuk mati, lahan kubur sudah semakin sulit dan mahal. Hidup ini selalu saja banyak keanehan yang sulit dijabarkan dengan logika.
Ibarat kontrak, kita hanya menunggu waktu kontrak selesai. Kesepakatan sudah kita buat dengan Allah jauh sebelum kita lahir di dunia. Yakni, di alam roh yang kita masing-masing sulit mengingat-ingat.
Tak ada yang berhak merasa lebih daripada yang lain. Sebab, kita awalnya memang tidak punya apa-apa. Mati hanya berbekal kain putih beberapa meter, lalu jasad hancur membusuk setelah sekian lama digerus waktu. Masihkah kita akan lebih sering tertawa dan sedikit menangis untuk Allah?
Gambar-gambar tersebut membuat kesedihan saya di pagi buta itu semakin memuncak. Bohong jika saya tidak merasa takut. Sedangkan mendengar kumandang azan sudah membuat hati bergetar, apalagi melihat kebesaran-kebesaran Allah yang nyata-nyata ada namun sering membuat kita khilaf untuk bersyukur dan berucap ampunan.
Sebuah masjid kukuh seolah berdiri gagah sendiri di tengah sekelilingnya yang hancur akibat tsunami dahsyat yang melanda bumi Serambi Makkah pada akhir 2004. Lalu, kobaran api dari sumber semburan panas lumpur Lapindo yang membentuk asma Allah. Subhanallah.
Pohon yang ruku, gambar sarang lebah yang membingkai indah nama Allah, awan bertulisan Muhammad SAW dan beberapa gambar lainnya. Masihkah itu belum cukup untuk mencairkan hati kita yang telanjur sering absen dan menomorsekiankan pentingnya mengingat mati. Ya, sehebat apa pun manusia, jika napas sudah sampai di ujung tenggorokan dan lidah sulit berucap sepatah kata, hanya menyebut Allah yang bisa menenangkan saat sakit sakaratul maut tiba. Namun, itu pun pasti sangat sulit.
Berapa umur kita sekarang? Kita tinggal berhitung mengkalkulasi waktu-waktu yang hilang sia-sia. Sehat saat ini bukan jaminan kita tidak bisa mati sedetik kemudian. Berharap penyesalan tidak datang di akhir, tapi bagaimana mungkin? Bila semua sudah digariskan dan kita percaya akan ketetapan Tuhan, bukan berarti takdir tak bisa diubah.
Pernahkah Anda dengar tentang kisah pelacur yang masuk surga hanya karena memberi minum pada seekor anjing yang kehausan? Atau seorang pembunuh yang masuk surga hanya gara-gara menangis dalam tobat terakhirnya.
“Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali, mereka yang beriman dan beramal salih. Dan saling menasehati dalam kebaikan dan menasihati dalam kesabaran” (QS Al-Ashr).
Ah, waktu bisa sekeras sebongkah batu. Jika kita hampir mati, ia tak mau dipaksa berputar kembali agar sedikit saja kita menyebut Ar Rahman. Sepertiga malam yang dingin. Bertabur cinta dan aroma wangi surga. Melarutkan suasana dalam tepi batas logika di saat kita enggan bangun dari peraduan yang telanjur akrab.


Eko Prasetyo (Jawa Pos), prasetyo_pirates@yahoo.co.id



membasuh jiwa dengan mahabbah
March 24, 2008, 11:56 pm
Filed under: |oase iman

Jika sampai di pengujung waktu, saat napas tinggal satu-satu, rasa sakit yang paling ringan seperti ditusuk tiga ratus pedang, tak terbayang bagaimana keadaan saat itu. Dan ini pasti akan akan kita alami kelak.

Kita tentu sering memikirkan bagaimana memahami perasaan orang lain. Namun, sering pula kita tidak terpikir untuk memahami Allah. Kita terbiasa terdogma asal bapak/ibu senang. Tapi, tak pernah terpikir untuk membuat Allah senang.

Dunia telah melenakan kita. Sedangkan masalah akhirat selalu gagal memesonakan kita. Selama 24 jam sehari, 30 hari dalam sebulan, dan 12 bulan dalam setahun, kita hanya mampu mengorganisasi tubuh tanpa terpikir apakah jiwa kita sudah terstruktur dengan baik.

Saat kita meminta hak kita untuk dipenuhi Allah lewat doa, jarang terlintas apakah kita sudah menunaikan kewajiban kita terhadap-Nya. Hidup benar-benar terasa tidak seimbang. Sebab, nikmat sesaat jauh lebih diterima daripada nikmat yang benar-benar nikmat.

Jasad dengan tubuh sempurna adalah kekayaan awal yang diberikan Allah. Bagi mereka yang cacat fisik, diberikan kelebihan lain yang tidak dimiliki orang dengan fisik sempurna. Semua sulit terduga. Ilmu kita terlalu kecil untuk bisa tahu rahasia Allah di luar kapasitas kita yang memang serba terbatas.

Dunia bukan milik orang-orang malas. Langit yang ditinggikan tanpa tiang dan bumi yang terhampar luas adalah tanda bagi orang yang berpikir. Sebab, kita telah diberi modal yang penting: otak.

Kini, kita mulai tersekat hidup dengan selembar kertas. Selembar kertas yang bertulisan nama diri dan jenjang pendidikan yang didapat. Kertas itu menjadi legitimasi yang terkadang membuat kewajiban kita terbengkalai karena sibuk dengan aktivitas yang menyita banyak waktu. Kapan waktu untuk Allah?

Ketika tak tahu malu sudah menjadi budaya, korupsi uang dan waktu dianggap biasa. Saat jabatan lebih prestisius untuk dikejar, lima menit dalam lima waktu untuk Allah menjadi tergadai. Waktu berlalu sia-sia.

Berapa umur kita sekarang? Semakin bertambah umur, sisa kontrak kita hidup di dunia tinggal sedikit. Pantaskah kita tersenyum dan gembira saat menyambut hari ulang tahun? Naif. Betapa naifnya kita. Padahal, sejatinya dengan bertambahnya usia kita seharusnya semakin takut.

Jika gagal me-manage waktu, kita selalu menyalahkan Allah yang tidak memperhatikan diri kita, menganggap bahwa doa hanya sewujud doa mekanis. Allah jarang mendapat tempat yang sepantasnya di hati kita. Padahal, siapa sesungguhnya kita? Cuma zat yang diciptakan dari tanah lalu ditinggikan derajatnya karena akal budi yang diberikan Allah. Lantas, pantaskah kita bangga?

Sesungguhnya, mudah sekali mempersatukan perbedaan. Namun, kita terlampau membuat itu menjadi sulit terwujud. Kita tak pernah berniat untuk menjadi lebih baik daripada kemarin dan hari ini. Inilah bukti kebodohan kita.

Kita sering menari-nari di atas sepotong kue ketidakberdayaan kita sendiri.

Telah datang lima waktu bercinta. Terbangun di atas mihrab cinta yang agung dalam percikan air suci saat beberapa anggota tubuh terbasuh. Cinta semakin menyatu saat tangan kanan beramal, tangan kiri tidak tahu. Ternyata, kita kecil. Bukan apa-apa. Lalu, mengapa kita malu mengakui kekerdilan jiwa kita?

cuplikan tulisan Eko Prasetyo (eramuslim.com)